Dengan paksaan Kian, akhirnya Arthur mau berbaring di sofa. Tangannya meremas tepian sofa ketika Kian membuka kemejanya.Melirik ke wajah Kian, Arthur melihat gadis ini begitu serius memperhatikan lukanya.“Ada bercak darah, sepertinya aku tadi terlalu kuat menekannya,” ucap Kian.Kian mengangkat pandangannya ke wajah Arthur, tatapannya begitu menyesal karena tak sengaja menekan luka pria ini.Kedua pipi Arthur tiba-tiba memanas, untuk menutupi kepanikan yang tidak diketahui penyebabnya ini, Arthur segera berkata, “Sudah tidak apa-apa, biar aku obati nanti.” Saat tangan Arthur hendak menutup kemejanya kembali, Kian dengan cepat mencegahnya.“Kalau lukanya berdarah lagi seperti ini, apa kamu bisa membersihkannya lalu mengobati dan menutupnya lagi sendirian? Sudah, biar aku bantu obati,” paksa Kian.Arthur tiba-tiba meneguk ludah kasar, bahkan pandangannya langsung terarah ke tempat lain.Kotak obat sudah ada di atas meja, Kian lebih dulu melepas perban yang menutup luka Arthur, sebelu
Terakhir Diperbarui : 2025-12-23 Baca selengkapnya