Sore hari.Semua orang masih berkumpul di ruang keluarga kediaman Arron. Saat masih berbincang hangat satu sama lain, melupakan penat karena pekerjaan, tatapan Kian teralih ke ujung ruangan. Kian melihat Kaylan yang berjalan pelan-pelan ke arah semua orang duduk.“Kaylan.” Kian langsung berdiri. Dia buru-buru menghampiri Kaylan yang tampak masih mengantuk.Begitu tiba di hadapan Kaylan, Kian berlutut lalu memasang senyum manis di wajahnya. “Kaylan, Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana? Apa kepalamu masih pusing?”Kaylan mengerjapkan matanya pelan, lalu menggeleng kecil. “Tidak, Bibi. Kepalaku sudah tidak pusing lagi, kok.”Kian bernapas lega mendengar balasan dari Kaylan, setidaknya luka di kening Kaylan tidak terlalu parah.Mata Kian tiba-tiba panas saat memandangi wajah Kaylan. Setelah lima tahun, akhirnya dia bisa melihat bayinya, walau Kian kehilangan banyak waktu dan tak bisa menemani Kaylan tumbuh.Yang terpenting sekarang. Kian bisa melihat Kaylan lagi.Kian memeluk erat tubu
Read more