Ellena masih membelakangi Reon. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia cepat-cepat mengangkat tangan, mengusap pipinya sebelum tetes berikutnya menyusul. Bibirnya terkatup rapat, giginya menekan pelan agar tak ada isak yang lolos.Di belakangnya, Reon melihat bahu Ellena bergetar tipis. Dia hendak meraih lengan Ellena untuk kedua kalinya, tapi istrinya itu menghindar lagi. Tanpa berpikir panjang, Reon maju dan memeluk Ellena dari belakang, kedua lengannya mengunci di sekitar tubuh istrinya."Lepas!" suara Ellena pecah, dia memberontak, mendorong lengan Reon, berusaha melepaskan diri. Reon tidak menyerah, dia mempertahankan tubuh Ellena dalam pelukannya. "Aku gak bakalan lepas, sayang." Suaranya rendah, serak, menempel dekat di telinga Ellena. Sementara itu, Ellena terus berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Reon sangat kuat. Tangisan yang tadi ditahan akhirnya pecah. Isak kecil keluar tak terkendali. Tubuhnya melemah perlahan di dalam pel
Magbasa pa