Langit sore tampak pucat di atas sana. Angin berhembus pelan, menggoyangkan rumput-rumput liar di sekitar makam yang masih terlihat baru. Tanahnya belum sepenuhnya padat, bunga-bunga di atasnya masih segar.Reon berdiri di depan makam dengan napas berat. Matanya terpaku pada nama yang terukir di nisan."Nek… maaf…" lirih Reon, "aku selalu terlambat," ujarnya parau, tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya.Reon menunduk sedikit, kelopak matanya mulai panas. Selain kehilangan, dia juga tidak bisa membayangkan betapa rapuhnya Ellena. Dia tahu istrinya itu sangat menyayangi neneknya, dia rela melakukan apapun. Kini, nenek istrinya telah tiada dan Reon tidak ada di samping Ellena saat berduka. "Maaf, Nek… ma—af…" suaranya pecah. Namun, sekarang, di mana dia bisa menemukan Ellena? Istrinya… tidak bisa dihubungi, tidak menjawab telepon ataupun membalas pesan, seolah menghilang begitu saja dari dunia.
Read more