Makhluk berzirah putih keperakan itu berdiri tenang di tengah reruntuhan, seolah semua kekacauan di sekitarnya bukanlah ancaman, melainkan hal kecil yang bahkan tak pantas ia anggap serius. Mataku menyala dengan penglihatan naga. Semua aliran energi di tubuhnya terbuka jelas di hadapanku. Dan itu justru membuat dadaku terasa semakin berat. “Ini bukan makhluk biasa,” bisikku. Yuzi mendarat beberapa meter di depan Arvas yang masih terjerat ekor Naga Purba. Darah terlihat di sudut bibir Arvas, tapi matanya tetap tajam, penuh perlawanan. “Aku masih hidup, santai aja,” katanya serak. Naga Purba mendengus pelan. Dia sangat mengenal Arvas. Pria itu memang selalu berusaha kuat, bahkan ketika dia di hajar berkali-kali oleh Naga Hitam dulu. “Kalau aku telat satu detik, kamu sudah jadi potongan daging,” gerutu Yuzi kesal. Dia membantu Arvas yang masih sempoyongan. Arvas menyeringai tipis. “Ya, itu berarti aku masih beruntung.” “Kenapa kamu ada di sini—” Belum sempat menjawab, makhluk
Dernière mise à jour : 2026-03-18 Read More