Jantungku berdenyut keras. Denyut ini bukan hasil dari dendam atau kebencian. Namun oleh pilihan yang baru saja melangit. Pilihan mahal yang berhasil Alana ambil.Aku mengambil satu pedang kayu yang masih utuh di tanah. Mengangkatnya, lalu melemparkannya pelan ke arah Alana. Ia menangkapnya refleks, dengan mata sedikit turun menatap pedang itu.“Kalau lo serius,” kataku datar, “buktiin. Kita bukan cuma harus punya tekad. Tapi kita juga harus kuat.”Alana menegakkan tubuh. Meski luka-lukanya belum sembuh, ia mengambil posisi bertarung.“Gue nggak akan menahan diri,” tambahku.“Gue juga nggak minta dikasihani,” balasnya.Kami saling menatap satu detik, lalu bergerak. Kayu beradu dengan suara keras. Alana terdorong mundur dua langkah. Aku maju tanpa memberi ruang. Tebasan kedua, ketiga, ja menahan dengan susah payah.Untuk saat ini, kemampuan bela diri kami sudah seimbang. Alana bahkan sampai terengah, untuk bisa menandingiku.“Lo masih ragu Alana!” bentakku.Alana menggeram. Serangannya
Dernière mise à jour : 2026-02-12 Read More