Alya menoleh cepat, menatap Nadia dengan sorot mata yang tak percaya. "Kamu semakin lama semakin keterlaluan pada ibumu sendiri, Nad!" desisnya pedih. Namun, Nadia hanya memutar bola matanya malas, seolah teguran itu hanyalah angin lalu yang membosankan. Pesta berlanjut dengan megah. Tansri benar-benar menumpahkan rasa rindunya pada Rama sebelum ia pamit untuk menemui kolega penting lainnya. Di sebuah lorong yang lebih sepi, Rama mencegat ayahnya untuk berpamitan. "Papa, aku pulang duluan ya," ucap Rama lirih. Tansri menatap putranya dalam-dalam. "Kapan kamu ke Malaysia, Nak? Mengelola bisnis Papa secara langsung?" Pertanyaan itu kembali dilayangkan, membuat Rama terpaku sejenak. "Entahlah, Pah. Aku akan membereskan semua masalah di sini sebelum benar-benar pindah ke sana. Aku ingin ke Eropa, tempat taman bunga Ibuku didirikan," balas Rama dengan mata yang memanas saat menyebut sosok ibunya. Tansri mengangguk bangga, lalu menepuk pundak Rama dengan mantap. "Papa tung
Read more