"Papa mau ngomong," ucap Tansri singkat, lalu berbalik masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban. Rama mengangkat alis, merasa ada yang aneh. Baru saja ayahnya tampak biasa, kenapa sekarang mendadak dingin dan ketus? Namun, Rama tak mau ambil pusing. Kepalanya sudah cukup penat menghadapi drama dua perempuan di rumah ini. Ia melangkah menaiki tangga satu per satu, lalu masuk ke kamar mengikuti sang ayah. "Duduk!" perintah Tansri tegas. Rama langsung duduk tanpa membantah. "Ram, kamu ini sangat plinplan. Dalam satu malam saja kamu sanggup membuat dua perempuan menangis, padahal mereka itu ibu dan anak!" ucap Tansri langsung pada inti masalah, tanpa basa-basi sedikit pun. Rama tertegun. Sejak kapan ayahnya menjadi sesensitif ini? "Ya, bagaimana lagi, Pa..." "Pilih salah satu, Rama! Jangan maruk!" sela Tansri tegas, membuat Rama bungkam seketika. "Loh, Papa?" "Apa?" "Ibu tiriku dan anak tiri Papa... dua-duanya Papa ambil juga, kan? Sama saja itu anak dan ibu!" balas
Read more