Suara kulit yang beradu menggema di seluruh sudut kamar, menjadi saksi bisu betapa panasnya pergulatan mereka sore itu. Keringat membanjiri tubuh keduanya, sementara Alya berkali-kali dipaksa mencapai puncak pelepasan oleh permainan Rama yang tanpa ampun. Hingga akhirnya, keduanya melenguh panjang dan ambruk di atas ranjang dengan napas tersengal. "Terima kasih, Bu," bisik Rama sembari menatap puas ke arah wajah Alya yang masih tampak kacau. Alya hanya mengangguk kecil, pipinya bersemu merah karena malu. "Kamu ini, Ram... ada Papa di atas, bisa-bisanya kamu senekat ini." "Sttt... Papa gak akan marah. Justru dia akan senang kalau kita beri dia cucu," jawab Rama asal, yang seketika membuat tubuh Alya menegang. Dengan gemas, Alya mencubit lengan kekar Rama. "Aduh, aduh! Sakit, Bu..." ringis Rama disusul kekehan kecil. "Sudahlah, ini sudah sore. Aku harus masak dulu," ucap Alya menyudahi candaan mereka. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk merendam diri di ba
Read more