Di sana terpajang foto ibunya yang tengah menggendong bayi merah. Sepertinya foto itu diambil sesaat setelah persalinan karena penampilan Lili tampak sangat lemah; wajahnya pucat, namun tangannya mendekap erat bayi itu dengan penuh kasih. "Ah, itu beliau saat melahirkanmu, sebelum malamnya kamu hilang," jelas Inok, tak bisa menahan rasa perih yang kembali menusuk hatinya. Rama mengangguk pelan. "Nek, ini mungkin terdengar lancang, tapi apa aku boleh memintanya?" "Tentu saja, Sayang. Itu foto ibumu dan dirimu. Kamu lebih berhak memilikinya," jawab Inok cepat. Ia berjalan mendahului Rama, mencabut foto itu dengan sangat hati-hati hingga kini berpindah ke genggaman Rama. Foto berukuran 9×9 cm itu kini berada di tangan Rama. Tangannya gemetar, ia mengusap lembut wajah Lili di dalam foto tersebut. "Dia sangat cantik, Nek," lirihnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. "Beristirahatlah, Nak. Nenek pamit undur diri," ucap Inok memberi ruang bagi Rama. Ia sengaja menutup pintu k
Read more