"Makasih, Pak Dewa. Jangan diulangi lagi, ya. Nanti para staf pada bisik-bisik. Minta imbalannya di rumah saja, jangan di kantor," ucap Nadia sambil mengambil map. Dewa tersenyum dengan tatapan hangat. "Tergantung permintaan tanda tangan berikutnya. Kalau di kantor imbalan, di rumah kewajiban." Nadia menahan senyum dan keluar dengan langkah cepat, pipinya masih menyisakan rona. Saat itu pun beberapa karyawan melirik ke arahnya. 🖤LS🖤 Pak Haris menarik napas panjang sebelum menekan ikon panggil di ponselnya. Dada berdegup kencang saat menunggu panggilannya diterima. "Halo, Assalamu'alaikum," terdengar suara perempuan di seberang. Detak jantung Pak Haris semakin susah dikendalikan. Itu suaranya Ratnasari. "Wa'alaikumsalam," suaranya bergetar. "Sari, ini aku. Haris," ucapnya kaku. "Mas Haris Pratama?" "Iya. Bagaimana kabarnya, Sari?" "Kabar baik, Mas. Ada apa, Mas? Tumben banget nelepon. Padahal aku dah ganti nomer loh ini." "Iya. Aku dapat nomermu dari plang nama di
Dernière mise à jour : 2026-01-19 Read More