Pagi itu di kantor Graha Utama berjalan seperti biasa, tapi bagi Nadia ada irama lain yang berdegup di dadanya setelah lamaran hari Sabtu. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, membuka dan menutup berkas, menyelaraskan angka-angka yang sejak tadi menuntut ketelitian. Wajahnya tenang, tapi pikirannya sesekali melayang pada kejadian itu. Lamaran lalu percakapan dengan Dewa hingga larut malam telah mengubah arah hidupnya.Mbak Ayi muncul di sisi mejanya sambil menenteng map cokelat. "Na," nada suaranya lirih. "Gimana acara malam minggu?""Alhamdulillah lancar, Mbak. Insyaallah sebulan lagi kami nikah."Mata Mbak Ayi membulat. "Hah! Sebulan lagi?"Nadia mengangguk pelan. "Tolong dirahasiakan dulu ya, Mbak.""Oke." Ia menyodorkan map. "Ini perlu tanda tangan Pak Dewa, Na. Urgent.""Hmm, iya, Mbak." Dada Nadia refleks mengencang. Ish, kenapa masih deg-degan begini? Padahal setelah menikah pun ia harus benar-benar profesional. Nadia beranjak ke ruangan Dewa. Ia mendorong pintu perlah
Dernière mise à jour : 2026-01-15 Read More