NADIA- 18 Lembaran BaruBunyi denting pesan membuat Nadia menoleh sekaligus berdebar-debar. Tadi dia mengetik kalimat panjang lebar pada Haya. Rasa tak enak masih menggelayut di dada. Kali ini yang direpotkan tidak hanya Haya, tapi suami dari wanita itu. Padahal mereka baru bertemu sekali saja saat Bu Isti mengundang mereka untuk makan malam bersama usai ketuk palu perceraian Nadia.[Nad, kata Mas Yanuar, besok bawa surat lamaranmu ke kantor Graha Utama, ya. Nanti kamu ditunggu suamiku jam delapan pagi.]Nadia buru-buru mengetik pesan balasan.[Oke, Mbak Haya. Makasih banyak.][Sama-sama, Nad. Semangat, ya. Tetap jadi wanita kuat.][Harus dong, Mbak. Makasih sekali lagi, Mbak.][Oke.]Nadia meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Bu Isti memandang putrinya. "Bagaimana?""Besok aku ditunggu Mas Yanuar di kantor jam delapan pagi.""Alhamdulillah.""Doain kali ini aku diterima, Bu.""Pasti Ibu doain, Sayang. Apapun yang terjadi, Ibu selalu mendukungmu. Pokoknya jangan khawatir, Ibu m
Última actualización : 2025-12-26 Leer más