Semua hambar menjelang peresmian hubungan mereka."Undangan sebagian sudah tersebar. Untuk relasi yang jauh." Selina sudah duduk di depan Davin. Dadanya membusung ke depan. Menonjolkan aset paling berharga miliknya. "Aku mengundang Nadia juga."Davin terkejut. Padahal ia sudah mewanti-wanti agar Nadia tidak masuk list undangan. "Aku sudah bilang. Nggak perlu ngundang Nadia.""Kenapa? Kurasa nggak masalah, Sayang." Selina tersenyum manis. Davin menghela napas panjang. Tak bisa membantah lagi.Hening beberapa saat hingga intercom di meja Davin berdering. Setelah menjawab, ia memandang Selina. "Aku ada meeting. Kamu pulang dulu.""Oke, Sayang." Selina meraih tasnya. Memberikan ciuman di rambut Davin, lantas melenggang keluar. Davin mendengkus kasar. Dia tidak punya pilihan lagi, benar-benar serasa di ujung tanduk. Teringat pertemuannya dengan Nadia tadi di pengadilan. Karena arogan, egois, dia kehilangan sosok sebaik itu. Perempuan rumahan, tak berpengalaman, dianggapnya tidak pantas m
Última actualización : 2025-12-23 Leer más