Pagi itu, cahaya matahari Jakarta menyusup malu-malu melalui celah gorden bangsal, menyapu lantai keramik putih yang dingin. Seonwoo baru saja melewati malam yang penuh dengan mimpi buruk tentang Seoul. Kondisinya sedikit membaik, selang oksigennya telah diganti dengan nasal cannula yang lebih ringkas, namun rasa sakit di punggungnya masih terasa seperti besi panas yang tertancap.Pintu ruangan terbuka. Jae-hyun melangkah masuk dengan senyum lebar yang tampak dipaksakan untuk menyapa Winda yang sudah duduk di sana sejak subuh. Di tangannya, Jae-hyun membawa sebuah rantang bundar tradisional yang mengeluarkan aroma harum bumbu dapur rumahan. Aroma kunyit, lengkuas, dan nasi hangat seketika memenuhi ruangan, mengusir bau antiseptik yang menyesakkan."Winda, lihat apa yang kubawa," ujar Jae-hyun dengan nada ceria yang sengaja dikeraskan. "Ibumu bangun sangat pagi tadi. Beliau memasak nasi kuning dan ayam goreng favoritmu. Beliau bilang, kau harus makan banyak agar tidak pucat seperti ora
Last Updated : 2026-01-17 Read more