Hujan badai yang melanda Seoul rupanya merambat hingga ke lereng bukit. Angin kencang menderu di sela-sela pohon pinus, menciptakan suara siulan yang terdengar seperti jeritan tertahan. Di dalam rumah kaca, suasana terasa sangat sunyi dan dingin. Seonwoo baru saja kembali dari hutan dengan luka yang sudah dibalut seadanya, namun matanya tak sedikit pun terpejam. Ia duduk di ruang tengah, senjata api tergeletak di atas meja kopi, sementara matanya terus memantau monitor CCTV yang sesekali bergetar karena gangguan cuaca.Winda duduk di sofa seberangnya, mendekap Ji-hoo yang gelisah dalam tidurnya. "Seonwoo, tidurlah sebentar. Aku yang akan berjaga," bisik Winda, suaranya parau karena kelelahan emosional."Aku tidak bisa, Winda. Firasatku mengatakan mereka belum selesai," jawab Seonwoo tanpa menoleh.Tepat saat kalimat itu berakhir, sebuah dentuman keras terdengar dari arah ruang panel listrik di bagian belakang rumah.Jlep! Dalam sekejap, seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan total.
Read more