"Dia selingkuh?""Ya.""Dia mau balikan?""Kurang lebih begitu.""Kamu mau balikan sama dia?"Aku memutar bola mata, malas menjawab. "Kak, pertanyaanmu banyak banget."Di bawah cahaya yang remang, Willy menatapku. Ditatap pria tampan seperti itu, aku tentu merasa malu. Pipiku terasa agak panas.Beberapa detik kemudian, Willy tiba-tiba bertanya, "Coba tebak, kenapa aku nanya sebanyak itu?"Keesokan harinya, aku bertemu Rolex. Namun, dia bukan datang mencariku. Di sampingnya berdiri Chellyn.Mereka keluar bersama dari sebuah toko barang mewah. Chellyn menggandeng lengan Rolex, sementara Rolex menenteng kantong belanja merek mewah, barang yang tentu saja tidak pernah dia belikan untukku.Saat melihatku, ekspresi Chellyn sedikit berubah. Dia berkata dengan nada menyindir, "Rolex, aku sudah bilang, dia nggak akan tega ninggalin kamu. Lihat saja, sampai ngejar ke sini."Rolex menarik lengannya dari pelukan Chellyn dan berjalan ke arahku. "Ziva, jangan salah paham. Aku cuma temani dia ke luar
Read more