“Tenanglah, aku akan terus belajar lagi. “ katanya, tersenyum.”Aku bukan nggak bisa, hanya kaku dan napasku sesak. Tapi sekarang lebih baik.” Laudya mengaduk gelas susu yang baru selesai ia siapkan. “Untuk nona Nara?” tanya Rosi. Laudya mengangguk, “Biar saya saja,” selanya. Laudya mengerti maksud Rosi, ia mengiyakannya. Rosi naik ke lantai dua, ia mengetuk pintu kamar Nara. Tak ada jawaban, pelan-pelan tangannya membuka engsel pintu. Seperti yang ia duga, Nara pasti berada di balkon saat ini. Rosi meletakkan susu itu di meja kamarnya, kemudian bersandar di dekat pintu balkon, mengetuknya seketika Nara terkejut. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya. Tok! Tok! “Nona, tangismu terdengar sampai halaman rumah. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi cobalah kendalikan hatimu. Nyonya memintaku mengantar susu ini, aku letakkan di meja.” Rosi paham keadaan yang menyedihkan, ia tak memaksa Nara untuk keluar.”Tenangkan dirimu dulu, jangan terlalu lama di luar, ce
Read more