Mendengar kata “Rumah sakit” membuat Laudya bersikeras menolak. Ia tak mau kembali ke rumah sakit, karena merasa tertekan di sana. Ia terus menggeleng sebagai tanda penolakan, hingga napasnya makin tersengal-sengal terlihat nyaris kelelahan. “Nara, kita harus bawa Mamamu ke rumah sakit jangan sampai dia telat mendapat pertolongan.” tekan Dikta. Nara bingung, di sisi lain ia tahu ketakutan Mamanya selama di rumah sakit, namun ia juga butuh pertolongan segera. “Baik, kita bawa saja!” melihat Laudya mulai nampak lemas ia tak bisa menolak lagi, pertolongan pertama sangat di butuhkan. Mereka membawa Laudya dengan mobil ambulan, selama di perjalanan dia mendapat pertolongan darurat terlebih dulu. Nara mulai panik, melihat Mamanya begitu kesakitan. Ketika sampai di rumah sakit, Laudya ditangani di IGD. Nara dan Dikta menjaga jarak. Butiran air mata Nara tak dapat lagi dibendung, tiba-tiba mengucur begitu saja. Takut Laudya melihatnya ia mundur dan keluar. Beberapa perawat baru saja me
Last Updated : 2026-02-06 Read more