Laudya berkata dengan nada tinggi dan mata yang memerah. Tangannya mengepal erat, tanda usai kesabarannya. “Kenapa aku harus tutup mulut Ma?” mulut Nara cukup berani kali ini.”Sejak kecil aku sudah tutup mulut dengan semua perlakuan Mama! Sudah saatnya aku bicara dan berhak menentukan arah hidupku.” Seolah Laudya mengarahkan pistol ke arah Nara namun dengan mudah Nara membaliknya, membuat Laudya tertodong. “Mama tahu apa soal hidupku sepeninggal Papa?” bibir Nara bergetar ketika menyudutkan Laudya. “Nara tahu, Mama terpukul, terpuruk, tapi apa Mama nggak pikirkan aku?” Laudya terlihat memalingkan muka, dadanya bergetar, sedikit tersulut rasa bersalah dengan apa yang Nara lontarkan. Nara masih meneruskan.”Aku juga jadi anak yatim Ma, semua teman-teman mengejekku, membullyku, apa Mama ada saat aku merasakan itu?” Mata Nara mulai membendung air. “Nggak! Nggak kan Ma? Sekarang ketika aku bisa menemukan letak kenyamanan hidupku, Mama masih menentangku?” emosi Nara tumpah ruah, Aland m
Read more