แชร์

BAB 25

ผู้เขียน: Avelynne
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09 14:05:15

Arjuna meletakkan nampan bubur itu ke atas meja nakas dengan bunyi tak yang tajam.

Dia tidak duduk. Dia berdiri menjulang di samping ranjang, tubuhnya yang besar menghalangi cahaya lampu dari lorong, menciptakan bayangan yang menelanku.

"Makan," perintahnya lagi. Satu kata. Datar. Tanpa negosiasi.

Aku memalingkan wajah ke arah dinding. Menutup mata. Mengunci bibirku rapat-rapat.

Aku sudah bertahan dua hari. Perutku memang menjerit minta diisi, tapi harga diriku berteriak lebih keras untuk menolak. Jika aku makan sekarang, itu artinya dia menang. Itu artinya aku menerima kurungan ini.

"Saya tidak suka diabaikan, Alea."

Hening. Aku tetap diam, memeluk lututku yang gemetar.

Tiba-tiba, tangan besar Arjuna mencengkeram rahangku.

Jari-jarinya yang kuat menekan pipiku, memaksaku menoleh menghadapnya. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, tapi tekanannya cukup untuk membuat tulang rahangku terbuka secara refleks.

"Buka," geramnya rendah.

Aku mencoba melawan, menggelengkan kepala. Tapi dia menaha
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 40

    Napas kami berdua perlahan kembali normal, mengisi keheningan yang tersisa di ruang tamu Penthouse yang luas ini.Aku berbaring menyamping di sofa, kepalaku berbantal dada bidang Arjuna.Tangan besarnya yang hangat melingkar di bahuku, mengusap lengan atasku dengan gerakan ritmis yang menenangkan—kontras dengan perintah kejamnya beberapa menit yang lalu.Aku seharusnya merasa jijik. Aku seharusnya lari ke kamar mandi dan menangis.Tapi tubuhku terasa berat dan lemas, efek dari pelepasan paksa yang baru saja terjadi. Dan sejujurnya, ada bagian kecil dari diriku yang merasa... aman. Aman dalam dekapan monster ini.Aroma Oud Wood dan musk dari kemejanya memenuhi hidungku. Detak jantungnya yang kuat dan stabil terdengar jelas di telingaku. Dug. Dug. Dug. Irama kehidupan yang kini mengendalikan hidupku.Aku memejamkan mata, mencoba menikmati sisa ketenangan semu ini sebelum realitas kembali menyerang.Namun, pertanyaan itu terus menghantui kepalaku. Pertanyaan yang menjadi satu-satunya len

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 39

    Pintu lift terbuka dengan denting halus yang biasa, namun bagiku hari ini suaranya terdengar seperti lonceng dimulainya babak baru penyiksaan.Arjuna berdiri di tengah ruang tamu.Dia tidak menyapaku. Dia tidak bertanya bagaimana hariku di kampus.Dia hanya berdiri di sana dengan satu tangan di dalam saku celana, dan tangan lainnya terulur ke depan. Telapak tangannya terbuka."Mana?" tanyanya datar.Aku membeku di dekat pintu, mencengkeram tali tas ranselku erat-erat. Aku tahu persis apa yang dia minta.Dengan langkah kaku, aku berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai marmer ini dilapisi lumpur pekat.Aku berhenti di hadapannya. Jarak kami hanya satu lengan, tapi rasanya seperti ada jurang menganga di antara kami.Tangan kananku bergerak lambat membuka ritsleting tas. Aku merogoh ke bagian dalam, ke kantong tersembunyi di mana aku menyembunyikan "barang bukti" kepatuhanku seharian ini.Jariku menyentuh kain katun lembut itu.Wajahku memanas hebat saat aku menarikn

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 38

    AC ruangan disetel di suhu terendah, membuat udara terasa kering dan membekukan.Aku duduk di barisan tengah, berusaha mati-matian untuk fokus mencatat.Pena di tanganku bergerak di atas kertas, menyalin grafik yang ada di papan tulis. Tapi pikiranku melayang jauh.Melayang ke makan malam "romantis" semalam. Ke rasa stroberi yang disuapkan oleh tangan pria yang sama yang memegang nyawa ibuku.Drt. Drt.Getaran panjang di saku samping tas laptopku—yang kuletakkan di pangkuan—membuatku tersentak. Pena di tanganku tergelincir, mencoret garis panjang yang merusak catatan rapiku.Aku melirik dosen di depan. Dia masih sibuk membelakangi kelas, menulis rumus.Dengan gerakan pelan dan hati-hati, aku menyelipkan tangan ke dalam tas. Mengambil ponselku.Jantungku berdegup kencang saat melihat nama pengirim pesan di layar yang menyala redup.My KingAku menelan ludah. Arjuna mengganti nama kontaknya sendiri di ponselku pagi ini sebelum aku berangkat. "Supaya kamu ingat siapa rajamu," katanya sam

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 37

    Lilin-lilin aromaterapi beraroma vanila dan sandalwood menyala di sepanjang meja makan marmer hitam itu.Cahayanya yang temaram berpendar lembut, memantul pada gelas-gelas kristal tinggi dan peralatan makan perak yang tertata presisi.Di tengah meja, ada vas bunga mawar merah segar yang kelopaknya masih basah oleh embun.Pemandangan ini indah. Sempurna. Seperti setting film romantis di mana pangeran tampan akan melamar kekasihnya.Masalahnya, ini bukan film romantis. Dan pria yang duduk di seberangku bukanlah pangeran, melainkan pemilikku.Aku duduk kaku di kursi beludru, mengenakan dress sutra merah marun yang dipilihkan Arjuna—salah satu hasil belanjaanku di butik waktu itu.Bahannya yang licin terasa dingin di kulit, tapi suasana di ruangan ini terasa panas dan menyesakkan."Kenapa tidak dimakan?"Suara Arjuna memecah keheningan yang hanya diisi oleh alunan musik piano lembut dari speaker tersembunyi.Dia menatapku dari balik cahaya lilin. Malam ini, dia terlihat berbeda. Jas kerja

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 36

    Bau rumah sakit biasanya identik dengan karbol menyengat, obat-obatan, dan keputusasaan. Tapi tidak di sini.Di lantai 8 Paviliun Kencana Medistra, udaranya beraroma lemongrass dan bunga segar. Lantainya dilapisi parket kayu hangat, bukan keramik putih dingin. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan yang menenangkan, bukan poster edukasi penyakit yang mengerikan.Aku duduk di sofa kulit empuk di samping ranjang pasien yang lebih mirip tempat tidur hotel bintang lima.Ibu tidur dengan tenang.Wajahnya yang beberapa hari lalu pucat pasi dan abu-abu, kini mulai merona kembali. Selang-selang infus dan monitor detak jantung yang canggih bekerja tanpa suara bising, menjaga ritme kehidupannya yang baru saja diselamatkan dari ambang kematian.Operasi Bypass itu sukses besar. Profesor Haryanto—yang konon biaya konsultasinya saja setara gaji setahunku—melakukan pekerjaannya dengan tangan dewa.Aku menghela napas panjang, merasai kelegaan yang luar biasa. Beban berat yang menindih dadaku selama b

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 35

    Uap panas dari kamar mandi mengikutiku keluar seperti hantu, lalu lenyap seketika ditelan udara dingin ruang kerja Arjuna.Aku melangkah keluar dengan kaki telanjang yang menapak ragu di atas karpet tebal. Jantungku berpacu begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku sakit menahannya.Ruangan itu kini jauh lebih redup daripada saat aku masuk tadi.Lampu utama sudah dimatikan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut dan bias cahaya lampu kota Jakarta yang menembus tirai tipis. Musik jazz instrumental mengalun sangat pelan, hampir tak terdengar, menambah atmosfer mencekam yang elegan di ruangan ini.Arjuna tidak lagi duduk di balik meja kerjanya.Dia duduk di sebuah wingchair kulit berwarna cokelat tua di tengah ruangan, menghadap lurus ke arah pintu kamar mandi. Kakinya menyilang santai. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber bergoyang pelan mengikuti gerakan pergelangan tangannya.Dia sudah menunggu.Tatapan matanya langsung menyambar sosokk

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status