แชร์

BAB 35

ผู้เขียน: Avelynne
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-11 13:55:35

Uap panas dari kamar mandi mengikutiku keluar seperti hantu, lalu lenyap seketika ditelan udara dingin ruang kerja Arjuna.

Aku melangkah keluar dengan kaki telanjang yang menapak ragu di atas karpet tebal. Jantungku berpacu begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku sakit menahannya.

Ruangan itu kini jauh lebih redup daripada saat aku masuk tadi.

Lampu utama sudah dimatikan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut dan bias cahaya lampu kota Jakarta yang menembus tirai tipis. Musik jazz instrumental mengalun sangat pelan, hampir tak terdengar, menambah atmosfer mencekam yang elegan di ruangan ini.

Arjuna tidak lagi duduk di balik meja kerjanya.

Dia duduk di sebuah wingchair kulit berwarna cokelat tua di tengah ruangan, menghadap lurus ke arah pintu kamar mandi. Kakinya menyilang santai. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber bergoyang pelan mengikuti gerakan pergelangan tangannya.

Dia sudah menunggu.

Tatapan matanya langsung menyambar sosokk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 38

    AC ruangan disetel di suhu terendah, membuat udara terasa kering dan membekukan.Aku duduk di barisan tengah, berusaha mati-matian untuk fokus mencatat.Pena di tanganku bergerak di atas kertas, menyalin grafik yang ada di papan tulis. Tapi pikiranku melayang jauh.Melayang ke makan malam "romantis" semalam. Ke rasa stroberi yang disuapkan oleh tangan pria yang sama yang memegang nyawa ibuku.Drt. Drt.Getaran panjang di saku samping tas laptopku—yang kuletakkan di pangkuan—membuatku tersentak. Pena di tanganku tergelincir, mencoret garis panjang yang merusak catatan rapiku.Aku melirik dosen di depan. Dia masih sibuk membelakangi kelas, menulis rumus.Dengan gerakan pelan dan hati-hati, aku menyelipkan tangan ke dalam tas. Mengambil ponselku.Jantungku berdegup kencang saat melihat nama pengirim pesan di layar yang menyala redup.My KingAku menelan ludah. Arjuna mengganti nama kontaknya sendiri di ponselku pagi ini sebelum aku berangkat. "Supaya kamu ingat siapa rajamu," katanya sam

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 37

    Lilin-lilin aromaterapi beraroma vanila dan sandalwood menyala di sepanjang meja makan marmer hitam itu.Cahayanya yang temaram berpendar lembut, memantul pada gelas-gelas kristal tinggi dan peralatan makan perak yang tertata presisi.Di tengah meja, ada vas bunga mawar merah segar yang kelopaknya masih basah oleh embun.Pemandangan ini indah. Sempurna. Seperti setting film romantis di mana pangeran tampan akan melamar kekasihnya.Masalahnya, ini bukan film romantis. Dan pria yang duduk di seberangku bukanlah pangeran, melainkan pemilikku.Aku duduk kaku di kursi beludru, mengenakan dress sutra merah marun yang dipilihkan Arjuna—salah satu hasil belanjaanku di butik waktu itu.Bahannya yang licin terasa dingin di kulit, tapi suasana di ruangan ini terasa panas dan menyesakkan."Kenapa tidak dimakan?"Suara Arjuna memecah keheningan yang hanya diisi oleh alunan musik piano lembut dari speaker tersembunyi.Dia menatapku dari balik cahaya lilin. Malam ini, dia terlihat berbeda. Jas kerja

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 36

    Bau rumah sakit biasanya identik dengan karbol menyengat, obat-obatan, dan keputusasaan. Tapi tidak di sini.Di lantai 8 Paviliun Kencana Medistra, udaranya beraroma lemongrass dan bunga segar. Lantainya dilapisi parket kayu hangat, bukan keramik putih dingin. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan yang menenangkan, bukan poster edukasi penyakit yang mengerikan.Aku duduk di sofa kulit empuk di samping ranjang pasien yang lebih mirip tempat tidur hotel bintang lima.Ibu tidur dengan tenang.Wajahnya yang beberapa hari lalu pucat pasi dan abu-abu, kini mulai merona kembali. Selang-selang infus dan monitor detak jantung yang canggih bekerja tanpa suara bising, menjaga ritme kehidupannya yang baru saja diselamatkan dari ambang kematian.Operasi Bypass itu sukses besar. Profesor Haryanto—yang konon biaya konsultasinya saja setara gaji setahunku—melakukan pekerjaannya dengan tangan dewa.Aku menghela napas panjang, merasai kelegaan yang luar biasa. Beban berat yang menindih dadaku selama b

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 35

    Uap panas dari kamar mandi mengikutiku keluar seperti hantu, lalu lenyap seketika ditelan udara dingin ruang kerja Arjuna.Aku melangkah keluar dengan kaki telanjang yang menapak ragu di atas karpet tebal. Jantungku berpacu begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku sakit menahannya.Ruangan itu kini jauh lebih redup daripada saat aku masuk tadi.Lampu utama sudah dimatikan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu meja temaram di sudut dan bias cahaya lampu kota Jakarta yang menembus tirai tipis. Musik jazz instrumental mengalun sangat pelan, hampir tak terdengar, menambah atmosfer mencekam yang elegan di ruangan ini.Arjuna tidak lagi duduk di balik meja kerjanya.Dia duduk di sebuah wingchair kulit berwarna cokelat tua di tengah ruangan, menghadap lurus ke arah pintu kamar mandi. Kakinya menyilang santai. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber bergoyang pelan mengikuti gerakan pergelangan tangannya.Dia sudah menunggu.Tatapan matanya langsung menyambar sosokk

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 34

    Pintu kamar mandi tertutup di belakangku, memisahkan aku dari tatapan lapar Arjuna—setidaknya untuk sementara.Aku menyandarkan punggung ke pintu kayu mahoni yang kokoh itu. Napasku berhembus panjang dan gemetar, menciptakan kabut tipis di udara yang dingin.Ini bukan sekadar kamar mandi. Ini adalah spa pribadi yang lebih mewah dari apartemen mana pun yang pernah kulihat. Dindingnya dilapisi marmer Carrara putih dengan urat abu-abu yang elegan. Lantainya hangat di bawah telapak kakiku, dilengkapi sistem pemanas bawah lantai yang canggih.Di tengah ruangan, sebuah bathtub oval besar berdiri megah di dekat jendela kaca buram. Tapi aku tidak punya waktu untuk berendam. Arjuna menunggu. Dan dia bukan tipe pria yang sabar.Aku berjalan menuju area shower yang dibatasi kaca bening. Tanganku gemetar saat memutar keran berlapis emas itu.Air panas menyembur keluar dari rain shower di langit-langit, menciptakan tirai hujan buatan yang deras. Uap panas mulai memenuhi ruangan, mengaburkan cermin

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 33

    Langkah kakiku terhenti tepat di tengah ruangan yang dingin itu.Arjuna masih duduk di posisi yang sama. Dia tidak berpindah satu inchi pun. Punggungnya bersandar santai di kursi kulit hitamnya yang besar, jari-jarinya bertaut di atas perut. Matanya yang tajam menatapku lurus, seolah dia sudah menghitung detik kedatanganku.Dia tidak bertanya. Dia tidak perlu bertanya. Wajahku yang sembab dan bahuku yang turun sudah mengatakan segalanya.Aku menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di suaraku. Aku tidak ingin terdengar menyedihkan di saat-saat terakhir kedaulatanku."Saya terima," ucapku. Suaraku parau, tapi tegas. "Selamatkan Ibu."Hening sejenak.Aku menunggu reaksi kemenangan. Aku menunggu seringai licik atau kata-kata ejekan seperti "Sudah kuduga".Tapi Arjuna tidak melakukan itu.Wajahnya tetap datar, tanpa emosi. Dia hanya mengangguk sekali. Singkat. Efisien. Seperti seorang CEO yang baru saja mendapatkan tanda tangan di atas kontrak merger bernilai triliunan.Tanpa membu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status