Ujung sepatu lari asics-ku menghantam permukaan aspal kompleks perumahan dengan ritme konstan. Satu, dua. Satu, dua.Udara pagi menabrak wajahku, membawa serta suhu dingin yang tersisa dari embun semalaman. Ritme napasku teratur, mengisi paru-paru secara presisi sebelum melepaskannya perlahan.Dulu, aku tidak pernah bisa berjalan pagi dengan tangan kosong.Pasti selalu ada buku catatan kecil di tanganku, atau setidaknya ponsel dengan aplikasi perekam suara yang menyala. Dulu, aku takut kehilangan ide. Aku takut sebuah pemikiran lewat begitu saja dan aku tidak punya cukup amunisi untuk menulis.Pagi ini, kedua tanganku bebas berayun di sisi tubuh.Percakapanku dengan Elang di perpustakaan kecil beberapa saat lalu masih tertinggal di kepalaku. Kata-kata anak itu berdengung, namun tidak menciptakan kekacauan. Kata-katanya justru membuka sebuah ruang kosong yang tenang di dalam dadaku.Aku terus melangkah menyusuri trotoar. Sinar matahari mulai memanjat naik melewati atap-atap rumah.Ada
Last Updated : 2026-08-09 Read more