Aku duduk di atas sofa beludru berwarna abu-abu gelap.Ini bukan lobi kantor penerbitan. Ini bukan kafe bising tempat kami biasa membedah naskah. Ini adalah ruang tamu rumah Laras.Aroma kopi hitam saring berpadu dengan wangi kayu pinus memenuhi udara. Ruangan ini terasa sangat personal. Sangat tertutup. Selama bertahun-tahun mengenalnya, Laras adalah benteng profesionalisme yang menolak keras wilayah privasinya diretas oleh siapa pun.Hari ini, batas itu lenyap.Laras keluar dari arah dapur. Dia membawa dua cangkir keramik tanpa alas. Pakaiannya sangat santai. Kaus katun putih bersih dan celana linen panjang."Kau tidak menambahkan gula?" tanyaku saat dia meletakkan cangkir itu di atas meja kaca."Sejak kapan kau minum kopi manis, Alea?" balas Laras datar.Dia duduk di kursi tunggal tepat di seberangku.Aku mengambil cangkir keramik itu. Suhunya menyengat telapak tanganku, memberikan sensasi hangat yang menjalar cepat ke pergelangan tangan."Ini aneh," ucapku lugas."Apanya yang aneh
Last Updated : 2026-08-15 Read more