Pintu perpustakaan kecil terbuka tanpa suara ketukan.Aku masih fokus pada deretan kalimat di layar laptop. Namun, ritme langkah kaki yang memasuki ruangan ini membuatku berhenti mengetik. Langkahnya ringan tapi sarat akan kepastian.Elang melangkah masuk. Ransel sekolah berwarna hitam masih menggantung di satu bahunya.Sepatu ketsnya meninggalkan jejak samar di atas karpet abu-abu. Anak berusia sembilan tahun itu tidak melempar tasnya sembarangan ke lantai seperti anak sekolah pada umumnya. Dia menurunkannya dengan presisi, meletakkannya tepat bersandar pada kaki meja kerjaku.Lalu, dia menarik kursi kayu di seberang mejaku dan duduk.Kursi itu adalah kursi tamu. Namun di dalam ruangan ini, posisinya lebih sering berfungsi sebagai kursi saksi. Itu adalah tempat orang-orang duduk saat mereka harus mempertanggungjawabkan argumen atau kebohongan mereka di depanku.Sore ini, putraku sendiri yang mengambil posisi itu.Dia tidak mengucapkan salam. Dia tidak meminta camilan sore. Dia tidak
Last Updated : 2026-08-18 Read more