Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari nampan perak yang kubawa. Dua cangkir porselen putih bertengger di atasnya, mengepulkan uap panas yang menandakan air mendidih baru saja dituang.Aku menarik napas dalam-dalam di depan pintu ganda ruangan Arjuna. Berusaha menenangkan detak jantung yang tidak karuan.Di dalam sana, ada wanita yang memiliki segalanya yang tidak kumiliki. Wanita yang bisa memanggil Arjuna dengan nama depannya, memeluknya tanpa ragu, dan berbicara tentang bisnis miliaran rupiah seolah itu adalah topik arisan.Sedangkan aku? Aku hanya pembawa kopi."Alea, jangan cengeng," bisikku pada diri sendiri. "Lakukan tugasmu, lalu keluar."Aku mendorong pintu dengan punggungku perlahan, lalu berbalik masuk.Suara tawa renyah Clarissa langsung menyambutku. Dia sedang mencondongkan tubuh ke arah Arjuna, menunjuk sesuatu di iPad-nya. Posisi mereka dekat. Sangat dekat."Dan kalau kita ambil alih lahan di PIK 2, valuasi kita bisa naik dua kali lipat, Juna," ucapnya antusias.Arjun
最終更新日 : 2026-01-20 続きを読む