Malam ini udara di Penthouse terasa berat, seolah ada badai tak kasat mata yang sedang berkumpul di langit-langit.Kami tidak makan malam. Tidak ada obrolan santai di sofa. Sejak perdebatan tentang kepulangan Luna tadi, Arjuna berubah menjadi pendiam. Tapi bukan diam yang tenang, melainkan diamnya seekor singa yang gelisah sebelum badai menerjang.Dia mondar-mandir di ruang tengah, memeriksa tabletnya, lalu meletakkannya dengan kasar. Dia menuang whiskey, meminumnya sekali teguk, lalu menuang lagi.Aku duduk di tepi ranjang kamar tidur utama, menatapnya dengan cemas. Koperku yang berisi barang-barang pribadi sudah dipindahkan ke kamar tamu oleh Pak Ujang tadi sore, tapi Arjuna bersikeras aku harus tidur di sini malam ini."Malam terakhir," katanya tadi.Tiba-tiba, Arjuna berhenti mondar-mandir. Dia menatapku dari seberang ruangan. Tatapannya gelap, lapar, dan mendesak.Dia berjalan cepat ke arahku.Sebelum aku sempat bertanya, dia menarik tanganku, menyeretku berdiri, lalu melempar tu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-16 Baca selengkapnya