Luna duduk di tengah, tepat di antara aku dan Arjuna. Dia seperti matahari pagi yang bersinar terlalu terang, celotehannya tentang museum Louvre dan croissant Paris memenuhi ruangan yang biasanya hening ini."Sumpah ya, Pa, cowok-cowok Paris itu overrated," cerocos Luna sambil mengoleskan selai stroberi tebal-tebal ke rotinya. "Ganteng sih, tapi ribet. Masih mending cowok Indo kemana-mana."Aku duduk di kursiku yang biasa, di sebelah kiri Luna. Kepalaku menunduk dalam, fokus mengaduk sereal di mangkuk yang sudah lembek karena terlalu lama direndam susu.Rambut panjangku sengaja kugerai ke depan bahu kiri, menutupi "bom waktu" berwarna merah keunguan di leherku. Aku tidak berani bergerak terlalu banyak. Aku takut rambutku tersingkap. Aku takut Luna melihat tanda kepemilikan ayahnya di kulitku."Kamu ke sana buat belajar fashion, bukan cari jodoh," sahut Arjuna tenang.Dia duduk di ujung meja, posisi kepala keluarga. Dia mengenakan kemeja putih bersih lengan pendek dan celana santai, te
Terakhir Diperbarui : 2026-01-17 Baca selengkapnya