Pagi di Puncak memiliki aroma yang khas. Aroma tanah basah, getah pinus, dan udara dingin yang bersih.Aku duduk di kursi rotan di balkon kayu villa yang menghadap langsung ke lembah. Kabut tebal yang semalam menyelimuti kami kini mulai menipis, menyisakan wisma-wisma awan yang berarak rendah di antara pepohonan.Di tanganku, ada secangkir kopi panas yang asapnya mengepul, menari-nari ditiup angin pagi.Di jari manis kiriku, cincin berlian solitaire itu berkilau malu-malu, menangkap sinar matahari pagi yang baru muncul."Kopi saya mana?"Arjuna keluar dari pintu kaca, membawa selimut tebal di tangan lainnya. Dia sudah mandi, rambutnya basah, mengenakan turtleneck hitam dan celana santai. Dia terlihat... muda. Dan bahagia.Dia menyampirkan selimut itu ke pundakku, memelukku dari belakang."Kopi Mas masih di meja dapur. Aku lupa bawa," jawabku sambil mendongak menatapnya, tersenyum lebar."Dasar pemalas," godanya, lalu dia membungkuk dan mencium pipiku.Bukan ciuman sekilas. Dia menempe
Last Updated : 2026-01-25 Read more