Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik, seolah ingin membakar habis segala rahasia yang tersembunyi di bawah bayang-bayang kota.Aku berdiri di teras lobi Penthouse, menatap punggung Luna yang melangkah riang menuju lift pribadi. Dia mengenakan sundress kuning cerah dan kacamata hitam di atas kepala, terlihat sangat kontras dengan awan mendung yang menggantung di hatiku sejak insiden di kamar mandi pagi tadi."Gue pinjem Maybach Papa ya, Al! Mau ke salon, sekalian creambath biar rileks," serunya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh. "Lo di rumah aja, istirahat. Muka lo masih pucet tuh.""Iya, hati-hati," jawabku pelan, meski suaraku tidak akan terdengar olehnya yang sudah masuk ke dalam lift.Pintu lift tertutup, membawa sahabatku turun ke dunia bawah.Aku memeluk diriku sendiri, merasakan angin dingin AC lobi menusuk kulit. Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di ulu hati. Perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Bahwa kepergian Luna kali ini akan membawa pulang sesu
最終更新日 : 2026-01-24 続きを読む