Vivian memperhatikan adegan itu dari sofa seberang. Dadanya terasa panas oleh rasa cemburu yang tiba-tiba membakar. Dia berdehem pelan, mencoba memberitahu Rusdi agar cepat menyingkir dari kaki wanita itu."Ekhem. Rus, jangan lama-lama bersihkan di situ," tegur Vivian pelan."Biarkan saja dia bekerja, Vi," potong Adrian cepat. "Maaf ya, Nona. Pelayan saya ini memang agak lamban dan bodoh. Tapi dia penurut kalau dibentak.""Tidak apa-apa, Pak Adrian," jawab Felicia santai. "Pekerja memang harus tahu cara berlutut untuk membersihkan kotoran majikannya, kan."Rusdi selesai memungut semua puntung cerutu. Sebelum berdiri, dia sengaja menahan posisinya di bawah meja. Rusdi perlahan mengangkat kepalanya.Mata tajam Rusdi langsung bertatapan lurus dengan mata Felicia di balik kacamata tipis itu.Tatapan Rusdi sangat misterius dan penuh perhitungan. Tidak ada satu patah kata pun yang diucapkan oleh Rusdi. Pria itu diam mematung dalam posisi jongkok, hanya menatap Felicia dalam-dalam.Felicia m
Read more