Rusdi merasakan detak jantung Vivian yang menggila di bawah telapak tangannya. Kain sutra itu begitu tipis, seolah tidak ada pembatas antara kulitnya yang kasar dengan kulit lembut sang Nyonya rumah.Mata Vivian yang basah menatapnya dengan binar lapar yang tidak bisa disembunyikan lagi."Berikan semuanya padaku, Rus... Jangan sisakan sedikit pun untuk besok," bisik Vivian. Suaranya serak, penuh dengan nada memohon yang membuat harga diri pria Rusdi melonjak tinggi.Rusdi tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik tangan yang tadi menempel di dada Vivian, lalu dengan gerakan cepat, dia menyambar pinggang wanita itu.Srett!Rusdi menarik Vivian hingga tubuh mereka bertabrakan tanpa celah. Vivian memekik pelan, tangannya refleks mencengkeram bahu kokoh Rusdi."Kamu yakin, Vivi? Setelah ini, tidak ada jalan kembali," suara Rusdi rendah, bergetar di telinga Vivian.Vivian tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia menarik kerah kemeja Rusdi dan membungkam bibir pria itu lagi. Kali ini lebih
Read more