Hawa dingin di Place Vendôme seolah meresap hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih dingin daripada suasana di dalam sedan hitam yang melaju menuju Avenue Foch. Emma duduk mematung di kursi belakang. Tak ada lagi air mata, tak ada teriakan histeris. Semua kesakitan, amarah, dan rasa malu itu ia simpan rapat-rapat dalam hatinya yang kini membatu. Ia menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu Paris yang berkilauan, yang beberapa jam lalu tampak seperti permata, kini terasa seperti ejekan yang menyilaukan.Di kursi kemudi, Mahes membisu. Fokusnya seolah tertuju pada jalanan yang mulai basah, namun pikirannya bercabang. Sesekali, matanya melirik ke arah kaca spion tengah, menangkap bayangan Emma yang tampak sayu di keremangan kursi belakang. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa kelu.Emma menyadari tatapan itu. Di satu sisi, ada secercah ketenangan yang menyusup di dadanya saat melihat Mahes masih berada di sana, memegang kemudi untuknya, dan memilih untuk tetap bersam
Mehr lesen