"Sayang, kamu tunggu di bangku dekat lobi dermaga sebentar, ya? Aku mau ke toilet," pamit Mahes, mencoba tersenyum senormal mungkin agar Vero tidak menaruh curiga."Iya, jangan lama-lama ya, Mahes," balas Vero lembut seraya melangkah menuju area lobi yang lebih hangat.Begitu sosok Vero agak menjauh, Mahes bergegas menyelinap ke balik pilar yang sepi di sudut dermaga. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan langsung mendial nomor telepon Anton. Jantungnya berdentum kencang selama nada sambung berbunyi. Ia harus memastikan dokumen itu masih aman di tangan Anton sebelum ia datang ke apartemen untuk mengambilnya kembali.Klik. Telepon akhirnya dijawab."Pak Anton! Dengar baik-baik. Rencana berubah. Sembunyikan dokumen itu baik-baik, aku akan segera ke apartemen sekarang, aku akan mengambil dokumen itu kembali," ucap Mahes cepat dengan suara yang sarat akan kepanikan.Namun, suara di seberang telepon tidak terdengar seperti biasanya. Suara
Read more