Gudang itu tidak punya nama. Dindingnya dingin, lantainya berdebu, dan bau besi berkarat bercampur minyak lama memenuhi udara. Kemala sadar lebih dulu kepalanya berdenyut, pergelangan tangannya terikat. Ketakutan yang kemarin masih berupa dugaan kini menjelma nyata, menekan paru-parunya sampai napas terasa pendek. "Aditya ..." suaranya gemetar. Aditya bergerak di sebelahnya, mengerang pelan. "Kita di mana?" Jawaban itu datang bukan dari ruangan, tapi dari langkah kaki yang bergema pelan. Pintu besi terbuka. Cahaya masuk secukupnya, cukup untuk memperlihatkan tiga sosok yang berdiri rapi, tidak tergesa, tidak marah. Justru itu yang paling menakutkan. Radiva melangkah paling depan. Wajahnya datar, mata gelap. Di belakangnya, Bima berdiri dengan rahang mengeras, sementara Aurelia menutup barisan tenang, dingin, dan penuh kendali. "Kami tidak datang untuk menyakiti," ucap Aurelia lebih dulu. Suaranya jernih, teru
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya