Aurelia sedang menandatangani berkas ketika ponselnya bergetar untuk ketiga kalinya. Ia tidak langsung mengangkat. Menyelesaikan tanda tangan terakhir, menutup map, baru kemudian melirik layar ponselnya. Nomor internal. Aman, tapi instingnya mengatakan tidak ringan."Iya?" jawabnya singkat."Ini aku," suara di seberang terdengar pelan, nyaris berbisik. "Kita perlu bicara. Sekarang."Aurelia berdiri. "Kirimkan."Beberapa detik kemudian, notifikasi masuk. Satu folder. Terkunci. Ia membuka pintu ruang kerjanya, memutar kunci, lalu duduk kembali. Jari-jarinya bergerak cepat, tapi wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang bersiap menerima kabar buruk.Dokumen pertama terbuka. Aurelia berhenti bernapas sejenak. Bukan karena terkejut, melainkan karena potongannya terlalu rapi. Terlalu terkurasi dan tanggal-tanggal lama. Nama-nama yang seharusnya sudah terkubur. Potongan laporan, rekaman percakapan, dan salinan dokumen yan
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya