Radiva pulang dengan langkah yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Alkohol menumpuk di kepalanya, menekan logika hingga terasa jauh. Rumah itu sunyi, lampu-lampu mati, hanya detak jam yang terdengar terlalu keras. Ia berhenti di depan satu pintu. Ya, di depan kamar Jenna. Pintu itu tidak terkunci. Terbuka sedikit. Radiva seharusnya berbalik. Ia tahu itu, tapi rasa yang sejak malam ia tekan. Cemburu, takut kehilangan, dan amarah pada diri sendiri mendorongnya melangkah masuk ke dalam kamar Jenna. Lampu temaram menyinari wajah Jenna yang tertidur. Radiva berdiri lama di sana, napasnya berat, dadanya naik turun tidak beraturan. Aroma sabun bercampur hangatnya kamar membuat kepalanya berputar. Jenna bergerak, terbangun setengah. "Radiva …?" Suaranya serak, bingung, apakah mimpi atau bukan? Radiva mendekat. Tangannya menyentuh pergelangan tangan Jenna. Tegas, hangat, dan lama. Jenna terkejut, tapi tidak langsu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya