Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah jendela tinggi di Aula Agung Kekaisaran Jin, namun kehangatannya tidak mampu mencairkan suasana yang sedingin es di dalam ruangan tersebut. Lantai marmer yang berkilat memantulkan bayangan puluhan menteri berbaju kebesaran dan jenderal-jenderal tangguh yang berdiri dengan wajah kaku. Di pusat aula, di atas singgasana naga yang megah, Kaisar Jin duduk dengan wibawa yang menekan, sementara Long Yuan berdiri di sisi kanan bawah, mengenakan zirah perang lengkapnya seolah-olah pertempuran akan pecah di dalam aula itu juga. Rapat penting ini bukan sekadar diskusi rutin. Ini adalah penentuan nasib kekaisaran, dan secara terselubung, penentuan nasib seorang wanita yang kini sedang meringkuk ketakutan di paviliunnya. "Kita berada di ambang badai yang lebih besar dari yang kita duga," suara Kaisar Jin menggelegar, memecah kesunyian yang mencekam. "Kekaisaran Shu, yang selama ini kita anggap sebagai sekutu damai, kini sedang bermain api. Keik
Terakhir Diperbarui : 2026-03-03 Baca selengkapnya