“Wil,” Wilona yang sejak tadi menunduk dengan bahu gemetar perlahan menoleh. Matanya sembab, napasnya masih tersendat karena tangis yang belum juga reda. Revan menatapnya lurus, kali ini tanpa ragu. “Gapapa kamu temui dia sebentar. Ini bukan demi kamu, dia, atau Kak Evelyn. Tapi demi Rena.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi beratnya terasa sampai ke dada. Wilona langsung menggeleng kecil, bibirnya bergetar. “Tapi Van, aku—” “Wil,” potong Revan lebih tegas, suaranya rendah namun penuh tekanan, “Nyawa Rena sedang dipertaruhkan. Dan juga biar bagaimana pun, ayahnya berhak membantu dia.” Ucapan itu membuat Wilona membeku. Koridor terasa sunyi. Hanya suara langkah perawat sesekali melintas. Di balik pintu UGD, anaknya sedang berjuang, sementara di luar, ia sedang berperang dengan ketakutannya sendiri. Wilona diam cukup lama. Sangat lama. Matanya kosong, seperti sedang
Baca selengkapnya