Di kediaman keluarga Saputra, suasana pagi terasa tenang.Sinar matahari menembus tirai besar ruang makan, memantul di atas meja panjang yang sudah tertata rapi dengan roti panggang, telur, dan secangkir kopi hangat. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi mentega yang masih mengepul tipis.Revan duduk rapi dengan kemeja kerja dan jas yang sudah tergantung di sandaran kursinya. Tangannya menggulir layar ponsel sebentar sebelum akhirnya meletakkannya saat sang ibu berbicara.Di ujung meja, Vita memperhatikan putranya sejak tadi. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, namun ia mencari waktu yang tepat.“Van, gimana rencana kamu selanjutnya?” tanya Vita akhirnya, memecah keheningan pagi.Revan mendongak. “Soal apa, Ma?”“Masa depan kamu.” Nada suara Vita lembut, tapi sarat makna. Revan sudah tahu arah pembicaraan itu.“Ma, Revan gak mau buru-buru menikah.” Jawabannya tenang, namun tegas.“Tapi Van… Mama pengen,” sahut Vita pelan
Read more