Setelah drama yang cukup panjang, air mata, keraguan, dan malam-malam penuh kecemasan yang terasa seperti tidak ada ujungnya… akhirnya hari itu datang juga. Untuk pertama kalinya setelah hampir empat tahun lamanya, Wilona kembali menginjakkan kaki di Jakarta. Kota itu masih sama. Padat. Bising. Penuh kenangan. Namun bagi Wilona, setiap sudutnya terasa berbeda. Bukan karena kotanya berubah… melainkan karena hatinya yang belum sepenuhnya sembuh. Mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan memasuki halaman rumah besar milik keluarga Revan. Wilona menatap keluar jendela sejak tadi, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan. Nafasnya tak sepenuhnya tenang. Di sampingnya, Vita menangkap kegelisahan itu. "Sayang, jangan takut. Ada Tante, ada Revan juga. Kami gak akan biarin kamu terluka lagi," ujar Vita lembut, tangannya mengusap punggung tangan Wilona penuh kasih. Wilona menoleh. Senyum kecil, rapuh, tapi tulus, terukir di wajahnya. "Terimakasih Tante," Vita langsung menariknya
Baca selengkapnya