Vera menunduk, jemarinya saling bertaut di atas selimut. “Tapi kan, Van… kita—” kalimatnya menggantung, tidak sanggup ia lanjutkan. Bahkan ia sendiri bingung harus menyebut hubungan mereka sebagai apa.“Kita apa?” potong Revan cepat, kali ini suaranya lebih dalam.Vera terdiam. Tidak ada jawaban. Hanya napas yang terasa semakin berat. Revan menghela napas panjang, Ia duduk di samping Vera tanpa ragu, lalu meraih tangan wanita itu. Genggamannya hangat dan tegas, seolah tidak ingin memberi ruang bagi Vera untuk menarik diri lagi.“Ver,” ucapnya pelan namun serius, “kita bukan anak SMA lagi. Kita sudah dewasa. Apa sih yang sebenarnya mau kamu cari?”Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat ke hati Vera. Ia menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu menjawab lirih, “Aku gak tahu, Van…” Jujur, tanpa pembelaan.Revan tersenyum tipis, bukan karena lucu, tapi karena ia mengerti. Ia menggenggam tangan Vera sedikit lebih erat. “Ya udah
Read More