"Enggak kok," jawab Vera singkat, sebuah kebohongan yang ia ucapkan dengan nada setenang mungkin. Ia menarik sudut bibirnya, berusaha menciptakan senyum yang tampak senatural mungkin meskipun matanya tak mampu berbohong.Wilona tidak lantas percaya. Ia justru memajukan duduknya, meraih jemari Vera yang terasa dingin. "Ver, kita sahabatan sudah lamaaaa banget loh. Dari SMA, kuliah, sampai sekarang. Sudah belasan tahun, Ver. Aku tahu kapan kamu senyum beneran dan kapan kamu senyum cuma buat nutupi sesuatu."Vera menunduk, menatap selimut rumah sakit yang menutupi kakinya. "Wil, aku—""Ver, kita sahabat. Ingat, kamu gak sendiri. Jangan dipendam," potong Wilona dengan nada yang lebih lembut namun penuh penekanan. "Kalau Revan berani nyakitin kamu, aku akan maju buat ngehajar dia. Aku gak peduli dia suami kamu atau siapa pun, kalau dia bikin kamu nangis, dia urusanku."Kehangatan dari genggaman tangan Wilona sempat membuat pertahanan Vera goyah.
Read More