Setelah pesta makan yang nyaris seperti jamuan perang itu, Wilona benar-benar merasa dunia berhenti berputar. Perutnya penuh, dadanya hangat, dan kepalanya sedikit ringan, antara kenyang dan lega. Ia merebahkan tubuh di sofa VIP room, satu tangan menopang perut, satu tangan lagi sibuk menggeser layar ponsel. Jari-jarinya lincah bermain game, seolah dunia di luar layar tidak lagi penting.Vera dan Tika masih duduk di seberangnya, saling pandang sambil menggeleng kecil. Mereka masih heran bagaimana satu tubuh sekecil Wilona bisa menampung makanan sebanyak itu. Namun melihat Wilona yang kini tampak lebih tenang, mereka memilih diam.Tok.Tok.Tok.Suara ketukan di pintu VIP room membuat Vera dan Tika kompak menoleh.‘’Wil, kamu masih pesen makan?’’‘’Enggak!’’ jawab Wilona tanpa menatap Vera.‘’Udah, kamu buka aja gih,” titah Tika.‘’Dih, nyuruh!’’‘’Hehehe sekalian Ver, elah!’’Mau tak mau, akhirnya Vera bangkit. Ia
Terakhir Diperbarui : 2026-02-07 Baca selengkapnya