Pagi masih sangat muda ketika ponsel Yudha berdering. Jam di dinding baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit. Udara masih dingin, kota belum benar-benar bangun. Yudha membuka mata perlahan, meraih ponsel di sisi ranjang, lalu menatap layar yang menampilkan nama Dirga.Ia mengangkatnya tanpa ragu.“Pak,” suara Dirga terdengar lelah tapi lega, “semua sudah siap.”Yudha bangkit setengah duduk. “Semua?”“Iya, Pak. Gedung, penghulu, gaun, MUA, dekorasi. Semua sesuai instruksi anda.”Di seberang sana, Dirga menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. Matanya merah, wajahnya pucat. Semalaman penuh ia tidak memejamkan mata barang sedetik pun. Sejak panggilan Yudha tengah malam tadi, hidupnya berubah jadi mode darurat.Gedung harus tersedia pagi ini juga.Gaun harus pas, meski tanpa fitting panjang.Penghulu harus siap dengan jadwal super mendadak.Dan semua itu… tanpa satu pun tamu undangan.Ia berlari dari satu tempat ke tempat lain, mengatur jadwal, menyogok waktu, menggeser kepentingan or
Terakhir Diperbarui : 2026-02-02 Baca selengkapnya