Wilona menatap pintu ruang ICU dari kejauhan. Lampu merah kecil di atas pintu itu masih menyala, tanda bahwa Yudha belum boleh dijenguk. Setiap detik terasa panjang, seolah waktu sengaja berjalan lambat untuk menguji ketabahannya.“Nona, saya harus ke kantor hari ini, saya—” suara Dirga terhenti, ragu untuk melanjutkan.Wilona menoleh perlahan. Wajahnya pucat, matanya sembab. Namun ia tetap berusaha tersenyum, meski senyum itu nyaris runtuh.“Gak apa-apa, Om,” ucapnya lirih. “Pergi aja. Mas Yudha biar sama aku.”Dirga terdiam sejenak. Ia tahu, Wilona tidak benar-benar baik-baik saja. Ia hanya tidak ingin sendirian. Tidak ingin meninggalkan tempat di mana suaminya sedang bertarung antara hidup dan mati.“Tapi nanti Pak Andika dan Bu Ola pasti juga akan datang,” ucap Dirga hati-hati.Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Wilona.Ia terdiam.Benar. Orang tua Yudha pasti akan datang. Mereka berhak. Mereka adalah keluarga sah Yudha, di mata dunia, di mata hukum, di mata semua ora
Terakhir Diperbarui : 2026-02-12 Baca selengkapnya