Geraman terdengar ketika sentuhan lembut di bawah sana memancing hasratnya. Zen tetap memejamkan mata, seolah menikmatinya. Setidaknya begitu yang dia harapkan. Tapi semua tak berjalan seperti keinginannya.Dia memang ingin dipuaskan, tapi otaknya justru lari ke mana-mana. Tidak fokus pada remasan nikmat di bawah sana. Zen baru akan menghentikan semua. Kala sentuhan lain menyapa bibirnya. "Aku rindu padamu. Aku sudah lama menunggumu, tapi kamu tidak pernah datang ke sini."Aroma parfum mahal segera memenuhi indera penciuman Zen. Dia kenal aroma ini. Dia dulu menyukainya, tapi sekarang ... tidak lagi.Dia lebih menyukai wangi yang lebih sederhana, polos, tanpa banyak tipuan di dalamnya. Seperti wangi ... Valin, istrinya.Begitu nama Valin muncul ke permukaan, Zen segera menjauhkan diri dari wanita yang hampir membangunkan miliknya."Zen," panggil lembut suara itu."Aku pikir kau tidak akan pernah kembali. Kenapa, dia tidak bisa memuaskanmu?""Zen, aku minta maaf. Aku melakukan kesalah
Last Updated : 2026-01-15 Read more