LOGIN"Coba kamu pikirkan, apa hubungan mereka. Bukannya Valin itu pacarnya Kian Egan. Dan siapa tadi, Razen Archlight, dia itu asistennya Kian Egan. Kalau aku tidak salah. Tapi Valin malah mesra banget ke dia.""Dia panik sekali tadi."Maria dan Ivone berbincang setelah huru hara di IGD berakhir. Keduanya dapat istirahat satu jam, bergantian dengan yang lain.Andrew dan Alvin belum kembali setelah akhirnya dipanggil naik ke sektor satu untuk membantu operasi Zen."Atau, Valin selingkuh sama si Zen ini." Ivone seperti mendapat pencerahan."Sembarangan kamu. Kalau Kak Valin selingkuh, Kian Egan pasti ngamuk. Apalagi mereka so sweet banget di depan mata. Kalau aku, sudah aku bejek-bejek mereka." Maria menyangkal tudingan sang teman.Ivone terdiam sambil memandang langit-langit kantin rumah sakit. Seolah berpikir. "Rumit. Kisah cinta Valin sejak dulu memang runyam." "Nasib jadi orang cantik dan pintar. Ke mana-mana selalu jadi rebutan. Lihat Xavier sebelum oleng ke Rosalie. Juga Adrian sebelu
Tidak!Hati Valin menolak seketika. Perempuan itu tanpa diduga naik ke atas tubuh Zen. Semua orang menganga melihat tingkah Valin."Valin!" Kian merespon dengan cepat.Namun sebelum ada tindakan lebih lanjut. Tangan Valin telah bergerak, melakukan pacu jantung manual."Razen Archlight, siapa bilang kau boleh mati!""Kau tidak boleh mati!""Tidak, tanpa izinku!""Kau bilang cuma aku yang boleh melukaimu.""Bangun! Aku bahkan baru menembakmu sekali!""Razen Archlight! Aku perintahkan kamu untuk kembali! Kembali kataku!"Gerakan terakhir lebih kepada pukulan dibanding pacu jantung. Valin terengah, tenaganya habis. Tapi monitor tetap tidak berubah.Garis lurus itu masih jadi mimpi buruk bagi Valin. Air mata Valin tumpah di dada Zen. "Bangun, aku bilang bangun," ucapnya dengan tangan terus memukul ringan dada Zen.Tangisnya pecah. Saat itu hanya Kian yang berani mendekat. Yang lain terpaku menyaksikan adegan barusan. Siapa Razen Archlight, lalu apa hubungannya dengan Valin.Kenapa perempu
Sementara itu di sisi lain sektor satu. Kepedihan baru saja meliputi Michele. Perempuan itu diam tanpa menjawab ketika tim dokter mendatanginya."Maafkan kami, Nona. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuan Hudson tidak bisa kami selamatkan."Vonis itu akhirnya datang juga. Lagi-lagi, orang yang berarti dalam hidupnya pergi. Satu pelukan di lengan membuat Michele sadar dari lamunannya.Dia lantas berkata, "Dokter, mendiang punya wasiat. Jika dia meninggal.""Kamu baik-baik saja?" Audrey setia mendampingi Michele. Wanita tersebut baru berani bertanya setengah jam kemudian. Setelah seluruh prosedur pengurusan kematian Mark Hudson selesai."Siapa yang baik-baik saja saat ditinggalkan."Kalimat Michele menohok sisi lain seorang Audrey. Ditinggalkan, dia juga pernah merasakan hal itu. Namun dia lebih sering meninggalkan dibandingkan ditinggalkan."Lalu rencanamu apa?" "Apalagi yang bisa kulakukan selain melanjutkan hidup.""Maksudku, apa kamu akan pergi lagi?"Michele menghela n
"Sebenarnya perasaanmu pada orang itu bagaimana?"Vante bertanya ketika mereka berada di dalam lift. Sang kakak minta mampir ke IGD. Dia ingin bertemu Ivone. Setidaknya untuk memberi kabar. Bukan asal sebut seperti Zen.Valin masih tidak terima dia dibilang kecelakaan. Enak saja. "Malah diam."Senggolan Vante membuat Valin tersadar. Dia menoleh pada sang adik yang setengah memapahnya. Vante benar-benar sehat sekarang. Pemuda itu tumbuh tinggi besar dengan wajah tampan seperti ayah mereka."Bagaimana ya, tidak tahu.""Malah tidak tahu. Kalian tiap hari tidur bersama. Sampai gila-gilaan, masuk rumah sakit lagi. Masak tidak ada rasa sama sekali.""Begituan cuma perlu napsu. Cuma kalau ditambah rasa bakal tambah nikmat. Cuma itu bedanya. Memang kau tidak begitu waktu sama Maria." Valin memiringkan kepala seraya bertanya."Aku cuma main-main, tidak pernah beneran. Lagian dia kalau diajak nikah gak pernah jawab. Diam aja. Bilang iya atau tidak, biar jelas statusku.""Status apa dulu nih?"
"Vante temani kakakmu pulang. Aku ada misi sore ini.""Misi apa?"Vante tanpa sadar bertanya. Diaa masih terbengong setelah tahu kalau Zen adalah orang yang telah menyelamatkannya setahun lalu."Anak kecil tidak usah tanya."Kekesalan Vante muncul menggantikan rasa hutang budi sebelumnya. Bibirnya tak lupa seketika mengumpat. Sederet makian langsung meluncur. Bibir Vante manyun tapi langkahnya menuntun kembali ke kamar Valin. Ketika dia sampai di sana. Sang kakak sudah siap untuk pulang."Zen ke mana?""Urusan kantor, mendadak. Pulang ayo. Bosan di sini."Vante sesaat terdiam. Jadi Zen tidak memberi tahu Valin kalau dia misi yang pastinya beresiko. Selain itu pasti berhubungan dengan bisnis gelap pria tersebut. Vante mengikuti langkah Valin. Pelan dan sesekali ringisan masih terdengar. "Pakai kursi roda saja.""Tidak mau, kayak pasien sakit parah aja. Kan cuma laparoskopi.""Nyatanya masih begitu. Jalan seperti orang habis operasi sesar. Jangan malu untuk terlihat lemah. Itu wajar,
"Keadaannya membaik, mungkin nanti sore bisa pulang.""Kapan aku bisa kerja lagi?"Sylus dan Zen saling pandang. Heran dengan pertanyaan Valin."Kenapa kamu ribut mau kerja. Kamu bukan orang yang kurang uang," sanggah Zen."Aku punya tanggung jawab. Aku ingin tahu kamu pakai alasan apa untukku kali ini.""Kecelakaan."Valin melotot mendengar jawaban Zen. "Bisa-bisanya dia menyumpahiku kecelakaan," gerutu Valin langsung di depan suaminya."Kan memang kecelakaan, dia yang nubruk."Uhuk! Valin dan Zen tersedak bersamaan. Sylus benar-benar ngaco.Setelahnya Sylus keluar dari sana. Meninggalkan Valin yang melirik judes pada suaminya.Tak berapa lama Vante masuk. Pemuda itu mendengkus kesal melihat Zen ada di sana."Kenapa? Aku suaminya, aku berhak ada di sini.""Tentu saja. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang kau lakukan. Kak, aku bawakaan kamu ini."Valin sumringah melihat buah strawberry Lagoo yang dibawa Vante. Meski makanan di sektor satu seperti restoran dengan anugerah bintang m
Sementara itu di luar ruangan Vante. Valin berontak dalam pelukan Zen. Dia meronta ingin melepaskan diri. Tapi rengkuhan Zen terlalu kuat untuk dia lawan. "Lepaskan aku! Aku ingin melihat Vante!" "Tidak!" Tegas Zen tanpa kompromi. "Tuan, dia adik saya. Saya ingin bersamanya." "Nanti!" Satu ka
Suara barang yang dibanting membuat keheningan di tempat itu pecah. Pelakunya menggeram marah dengan tangan terkepal erat. Matanya merah dengan tatapan layaknya predator mengintai mangsa."Razen Archlight! Brengsek! Bagaimana soal info yang kuminta?"Dia menoleh ke kiri, sang asisten muncul dari ke
"Mereka sudah ditangkap, tapi mereka pilih mati dari pada buka suara."Mark melapor dengan wajah masam. Dia paling benci kalau misinya gagal. Mark adalah salah satu yang paling kejam di antara mereka. Boleh dikatakan dia setara dengan Zen soal kesadisan.Shane yang berdiri di sebelahnya hanya mengg
"Jangan biarkan orang lain menindasmu. Lawan mereka sampai habis."Kalimat itu kini jadi pegangan Valin. Benar, dia tidak biarkan Tessa dan Devan menindasnya lagi. Berita soal Valin menampar Tessa dan membanting Devan, seketika jadi bahan gosip tambahan di tengah riweuhnya pemeriksaan pasien.Terse







