Zen mendudukkan diri di hadapan seorang pria berparas tampan. Sama sepertinya, hanya saja pria itu bernetra abu. Sorot matanya tajam, tapi belum mampu menandingi Zen.Binar mata Zen sudah mampu membuat lawannya berpikir dua kali untuk melawan. Begitu Zen duduk, atmosfer di ruangan itu berubah. Ada ketegangan samar, juga aroma persaingan. Sedikit kebencian serta amarah menyertai."Karena tuan Zen sudah ada di sini, jadi kita bisa mulai pembicaraannya," kata Adrian."Langsung saja. Gudang itu milik kami, tidak akan kami berikan begitu saja," putus Zen final. Adrian mengepalkan tangan. Di atas persoalan bisnis, masih ada hal yang harus dia urus. Dan sikap Zen sudah menunjukkan kalau pria itu menutup semua pintu negosiasi.Jika hal itu sudah terjadi, maka sulit untuk mencari celah. Zen dan kelompoknya mungkin bukan klan dengan kekuatan sebesar Black Diamond. Tapi kedudukannya bisa setara dengan klan pimpinan keluarga Inzaghi itu.Bahkan jika Zen mau, klan lain bisa saja tunduk padanya. P
Last Updated : 2026-01-18 Read more