ログイン"Jangan lihat mereka. Pandang saja aku," bisik Zen ketika sayatan pertama Paula lakukan.Tidak ada perih yang terasa. Dokter anastesi melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya lelaki selain Sylus yang akhirnya diizinkan masuk. Mereka kehabisan waktu, hingga Zen tak punya pilihan selain mengizinkan dokter anastesi pria membantu persalinan Valin.Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara alat bedah yang bekerja. Bisturi atau pisau bedah/scalpel. Lalu gunting metzenbaum, gunting mayo, pinset, retraktor berurutan digunakan.Hingga ketika bisturi atau scalpel alias pisau bedah kembali digunakan. Banjir langsung terjadi di bawah sana.Ketuban Valin berhasil dirobek. Beberapa klem arteri digunakan untuk mengontrol aliran darah selama fase operasi. Paula dan Sissy sesaat bertatapan. Sebelum dengan perlahan mereka mendapatkannya.Semua orang menahan napas. Ketika tangis kencang memenuhi ruangan itu. Sissy bahkan sampai berkaca-kaca ketika dia menangani bayi cantik bermata biru tersebut.
Detik berlalu berubah jadi menit. Menit menjelma jadi jam. Selama itu Zen terus mendampingi Valin yang sedang berusaha menahan kesakitan guna melahirkan anak mereka.Hampir enam jam proses itu berlangsung. Dengan pembukaan tujuh sebagai hasilnya. "Tidak ada masalah bukan?" Sylus kembali bertanya."Tidak ada. Tiap proses melahirkan memang berbeda. Tak semua sama. Sissy bilang, tidak ada masalah waktu pemeriksaan terakhir. Dia sudah mengirimkan hasilnya padaku.""Bahkan USG-nya sampai paling detail. Valin ingat Tristan terlilit tali pusat meski cuma satu lilitan.""Lalu apa masalahnya?" Sylus tampak bingung."Tidak ada. Hanya belum waktunya. Lagi pula kondisi Valin dan bayinya terpantau masih aman. Air ketubannya masih cukup. Masih bagus untuk melindungi bayinya.""Sudah bagus dia lahir sekarang. HPL-nya sudah lewat empat hari. Sissy bilang kasih waktu seminggu. Kalau bayinya belum juga lahir. Terpaksa harus di-SC."Sylus menghela napas. "Sayang sekali Sissy sedang menangani kasus ibu
Sesuatu dalam diri Zen seperti menyala. Perlahan membakar semangatnya. Rintihan kesakitan Valin dan kebingungan Sylus membuat dia seperti terpacu untuk bergerak.Seluruh otot dan saraf di tubuhnya meregang. Merespon keinginan kuat Zen untuk bisa berdiri tanpa bantuan apapun. Dia menyeret kakinya. Coba menggerakkannya. Meski kemudian rasa sakit menyengat tulang belakang Zen.Tidak! Dia tidak mau menyerah. Kali ini mencoba sebelah kakinya yang lain. Rasanya sama nyerinya. Keringat bercucuran di sekujur raganya. Zen bertekad memaksa dirinya sampai ke batas maksimal. Dia harus sembuh. Dia yakin juga mampu.Di sana, di ambang pintu ada Valin yang mengerang menahan sakit. Sylus jelas tak berani berbuat banyak selagi Zen ada di sana."Zen, dia sepertinya mau melahirkan."Teriakan Sylus membuat Zen mengetatkan rahang. Tangannya terkepal penuh tekad. Dia perlahan melangkah."Zen, sakit."Panggilan Valin membuat Zen makin terpacu."Tidak, Zen. Jangan dipaksa. Fatal akibatnya."Sylus bingung an
"Yang di Valley of Death sudah dimusnahkan. Mereka malah nyusul kemari. Cari mati mereka!"Mark menggeram penuh kemarahan. Dia dan yang lain sedang berada di depan ruang operasi. Tembakan tadi menembus leher Kian. Urat nadi di lehernya terkoyak. Para dokter di dalam sana sedang bertarung dengan waktu juga takdir Kian."Tenang saja. Orang-orang kita pasti akan segera menangkapnya." Shane membalas sambil menoleh ke arah Jody yang menangis dalam pelukan Ivone."Kita akan membuat mereka membayar sepuluh kali lipat." Mark tampak emosi sekali.Kian itu paling jarang terluka. Karena dia memang tidak dinas di lapangan. Fokus Kian adalah menghandle urusan administrasi. Tapi sekalinya terluka sampai membuat semua orang panik. Untung saja kejadian tadi tepat di parkiran rumah sakit. Hingga cepat dapat penanganan. Jika tidak, nyawa Kian bisa saja tak tertolong."Bagaimana keadaannya?" Lexi bertanya sambil mengedikkan kepala.Mark dan Shane pilih menyingkir ketika mereka kedatangan Lexi dan Caleb
Jantung Zen serasa berhenti berdetak. Suara itu terdengar sangat familiar di telinganya. Ditambah aroma yang mendadak memenuhi indera penciuman Zen. Aroma yang membawa jutaan debar juga kilasan ingatan di benaknya. Walau samar."Va-Valin," panggil Zen ragu.Sosok itu berpindah ke hadapan Zen. Pria itu mengikuti tiap gerak wanita berambut panjang hingga duduk di lantai. Matanya tak berkedip sama sekali. Seolah Zen takut jika dia mengerjapkan netra birunya, Valin akan menghilang dari jangkauannya."Jangan di bawah," ujar Zen begitu dia mampu menguasai diri."Aku tidak berdiri lama. Zen." Valin mendongak dengan tangan terulur mengusap wajah sang suami. Keduanya menangis. Sama-sama menumpahkan rasa yang hampir empat bulan terpendam. Meski ada balut tidak percaya juga di dalamnya. Valin menatap Zen dengan rasa syukurnya. Sedang Zen dengan binar takjubnya. Benarkah wanita cantik di depannya ini adalah istrinya. Perempuan yang kata Vante mampu membuat Zen cemburu buta karena banyak yang
"Taruhan kok hati," gumam Jody tak habis pikir.Gadis itu sudah kembali ke apartemen. Jody menolak ikut ke tempat Kian. Saat ini dia sedang duduk termenung di tepi jendela kamarnya.Hal itu sudah dia lakukan selama hampir setengah jam sejak pulang dari bioskop. Acara yang membuat mereka mengalami kram perut. Saking banyaknya tertawa.Jody masih belum bisa terima perasaan Kian. Ada yang masih mengganjal di hati gadis itu. Sejatinya dia setuju dengan kalimat Valin.Dia tidak akan menyerahkan hatinya pada orang belum selesai dengan masa lalunya. Lebih baik dia hidup tanpa cinta dari pada harus berbagi rasa dengan wanita lain. Meski itu hanya bayangannya saja.Ribet? Biarkan saja. Toh Jody yang menjalani, bukan orang lain.Jody masih asyik melamun, sampai tak menyadari ada orang lain masuk ke unitnya. Kian, lelaki itu tak mendapati Jody di manapun. Jadi dia asal masuk saja ke kamar Jody.Sudut bibirnya tertarik melihat Jody duduk melamun di dekat jendela. "Mikirin aku ya?"Jody nyaris te
"Dia tidak apa-apa?" Zen berjalan sambil mengelap lumuran darah di tangan dan wajahnya. Sepertinya pria itu baru saja melakukan operasi sendiri.Aslinya Zen punya basic dokter. Walau dia tidak kuliah kedokteran. Ayahnya saja dokter. Dia tahulah sedikit banyak soal dunia kedokteran. Jadi dia suruh
"Dia tidak apa-apa?"Mark bertanya pada dokter yang baru saja menangani Nicky."Lambungnya robek, luka sepanjang lima senti."Dorongan napas kasar terdengar. "Siapa yang berani melukainya?""Tunggu dulu, Nick tidak selemah itu. Kalau cuma orang biasa, pengunjung klub, mereka tidak akan bisa meluka
"Halo, perkenalkan. Saya Katie Sinclair. Perawat baru yang akan bergabung dengan divisi ini. Mohon bimbingannya."Valin menoleh ke arah gadis berambut pirang yang yang baru saja memperkenalkan diri. Valin tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. Tapi itu hanya sebentar sebab dokter Andrew menepuk
Vier kembali lagi ke pasar malam setelah mengganti pakaiannya. Dia sempat berputar beberapa kali, tapi tidak bertemu Zen. Pria itu menggeram marah. Sejak jembatan Surray direbut, sejak itu Vier ingin sekali menghabisi Zen. Ditambah mereka dikerjai saat berniat menyabotase pengiriman senjata kelomp







